PAI dan Budi Pekerti SD: Kelas 5

Welcome

Selamat Berkunjung di Blog PAI dan Budi Pekerti SD

Materi PAI dan Budi Pekerti SD

Selamat Membaca, Semoga Bermanfaat

Tampilkan postingan dengan label Kelas 5. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kelas 5. Tampilkan semua postingan

Tujuan Pembelajaran

1. Meyakini peristiwa Fathu Makkah dan Haji Wada dengan benar.
2. Membiasakan perilaku pantang menyerah sebagai bukti implementasi makna Fathu Makkah dan Haji Wada dengan benar.
3. Menjelaskan pengertian peristiwa Fathu Makkah dan Haji Wada dengan benar.
4. Menjelaskan sebab-sebab terjadinya peristiwa Fathu Makkah dengan benar.
5. Menentukan perilaku mulia Rasulullah saw. dalam peristiwa Fathu Makkah dan Haji Wada dengan tepat.
6. Menemukan perilaku terpuji dalam peristiwa Fathu Makkah dan Haji Wada dengan tepat.
7. Menghubungkan peristiwa Fathu Makkah dan Haji Wada dengan perilaku terpuji sehari-hari dengan benar.

Pendalaman Materi
A. Kisah Istimewa Fathul Makkah
Pada bulan Zulqa’idah tahun ke-6 Hijriyah, Rasulullah saw dan para sahabat ingin menunaikan ibadah haji. Namun, sesampainya di Hudaibiyah mereka dihadang oleh kaum Quraisy Mekah. Kaum Quraisy melarang mereka memasuki kota Mekah. Oleh karena itu, terjadilah perundingan yang akhirnya menghasilkan Perjanjian Hudaibiyah. Perjanjian tersebut berisi perdamaian antara kaum Quraisy Mekah dan kaum muslim Madinah. Isi Perjanjian Hudaibiyah adalah sebagai berikut.
1. Pengikut Rasulullah saw tidak boleh melaksanakan ibadah haji tahun ini, namun boleh melaksanakannya tahun depan. Waktu pelaksanaanya tidak boleh lebih dari tiga hari.
2. Menghentikan permusuhan dan tidak saling menyerang dalam waktu 10 tahun.
3. Pengikut Rasulullah saw yang kembali ke Mekah dipersilahkan bergabung dengan kaum Quraisy.
4. Menolak kaum Quraisy yang hendak menjadi pengikut Rasulullah saw ke Madinah.
5. Memberikan kebebasan kepada suku-suku Arab untuk memilih bergabung dengan Rasulullahs saw atau kaum Quraisy Mekah.
Belum sampai 10 tahun, kaum Quraisy telah mengingkari Perjanjian Hudaibiyah. Mereka membantu suku Bani Bakr menyerang suku Khuza’ah. Penyerangan tersebut mengakibatkan banyak korban jiwa. Mendengar peristiwa tersebut, Rasulullah saw memberikan pilihan kepada kaum Quraisy Mekah, yaitu sebagai berikut.
1. Kaum Quraisy Mekah segera menghentikan peperangan dengan suku Khuza’ah.
2. Kerugian atas jatuhnya korban perang dari suku Khuza’ah harus diganti.
3. Membatalkan Perjanjian Hudaibiyah.
Kaum Quraisy memilih untuk membatalkan Perjanjian Hudaibiyah, Rasulullah saw segera menyiapkan pasukan untuk menghadapi kaum Quraisy. Rasulullah saw berhasil mengumpulkan 10.000 orang dengan sangat cepat. Mereka siap membela Rasulullah saw dan agama Islam.
Kaum Quraisy mendengar keberangkatan Rasulullah saw bersama pengikutnya. Meski membawa pasukan yang jumlahnya sangat banyak, Rasulullah saw tidak memerangai kaum Quraisy. Rasulullah saw dan para sahabat hanya ingin memberi peringatan kepada kaum Quraisy serta menunjukkan bukti bahwa Islam di Madinah berkembang sangat pesat.
Rasulullah saw dan para sahabat memasuki kota Mekah dengan damai dan tenang seraya menyerukan bacaan takbir dan tahmid. Kota Mekah akhirnya terbuka kembali untuk kaum muslimin. Peristiwa itulah yang disebut Fathul Makkah, yakni penaklukan kota Mekah tanpa pertikaian dan peperangan.
Abu Sufyan yang selama ini memusuhi Islam saat itu masuk Islam. Bacan takbir dan tahmid semakin bergemuruh saat Rasulullah saw dan para sahabat tiba di sekeliling Kakbah. Mereka melakukan tawaf dan membersihkan patung-patung yang ada di sana. Rasulullah saw kemudian memerintahkan agar Bilal bin Rabbah mengumandangkan azan. Azan yang dikumandangkan oleh Bilal bin Rabbah tersebut merupakan azan pertama di Kota Mekah.
Peristiwa Fathul Makkah membuat kaum Quraisy berbondong-bondong memeluk Islam. Allah Swt berfirman.
Artinya :
1. Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan
2. dan engkau melihat manusia berbondong-bondong masuk agama Allah,
3. bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Penerima tobat.

B. Peristiwa Haji Wada
Haji wada’ atau haji perpisahan adalah haji terakhir yang dilaksanakan Rasulullah saw. Malaikat Jibril telah menyampaikan bahwa semua wahyu Allah Swt telah tersampaikan kepada Rasulullah saw. Saat itu Rasulullah saw merasa bahwa dirinya akan segera dipanggil oleh Allah Swt. Rasulullah saw segera mengumumkan bahwa beliau akan berangkat menunaikan haji ke Mekah. Beliau sendiri yang akan memimpin rombongan tersebut.
Dalam waktu singkat, terkumpulah 30.000 orang laki-laki dan perempuan yang ingin berjalan bersama Rasulullah saw menuju Kakbah di Mekah. Rasulullah saw dan para sahabat menunaikan ibadah haji dengan khidmat. Di Arafah, Rasulullah saw mengingatkan kepada kaumnya agar tidak terjadi pertikaian dan peperangan.
Dalam haji wada’ tersbut, Rasulullah saw memberikan banyak nasehat kepada kaum muslimin, antara lain sebagai berikut.
1. Berakhlak terpuji antar sesama.
2. Melaksanakan perintah Allah Swt dan menjahui larangan-Nya.
3. Melaksanakan amanah dengan penuh tanggung jawab.
4. Melarang umat Islam melakukan riba.
5. Menyeru untuk menciptakan perdamaian dan tidak saling balas dendam.
6. Mengingatkan bahwa derajat manusia di hadapan Allah Swt adalah sama, yang membedakan hanyalah ketakwaannya.
7. Sesama muslim adalah saudara.
Pada akhir pidatonya ketika haji wada’, Rasulullah saw menyampaikan bahwa beliau meninggalkan dua petunjuk untuk umat Islam, yaitu Al-Quran dan Al-Hadis. Rasulullah saw menginginkan agar umat Islam terhindari dari kesalahan. Dalam haji wada’, Allah Swt menyampaikan wahyu yang terakhir, yaitu surah Al-Maidah ayat 3 berikut.
Artinya : “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, dan (daging hewan) yang disembelih bukan atas (nama) Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang (sempat) kamu sembelih.198) (Diharamkan pula) apa yang disembelih untuk berhala. (Demikian pula) mengundi nasib dengan azlām (anak panah),199) (karena) itu suatu perbuatan fasik. Pada hari ini200) orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu. Oleh sebab itu, janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu. Maka, siapa yang terpaksa karena lapar, bukan karena ingin berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Q.S. Al-Maidah : 3)
Ayat tersebut menjelaskan bahwa Islam adalah agama yang sempurna. Islam adalah agama yang diridoi Allah Swt. Para sahabat meneteskan air mata karena merasa seolah-olah Rasulullah saw benar-benar akan meninggalkan mereka untuk selama-lamanya. Setelah ibadah haji selesai, Rasulullah saw dan rombongan kembali ke Madinah. Pada akhir bulan Safar tahun ke-11 Hijriyah, Rasulullah saw sakit dan akhirnya wafat pada tanggal 12 Rabi’ul Awwal tahun ke-11 Hijriyah.
C. Hikmah Kisah
Adapun hikmah yang dapat kita petik dari kisah Fathul Makkah adan haji wada’ antara lain sebagai berikut.
1. Menebarkan kasih sayang kepada sesama.
2. Senantiasa menepati janji.
3. Selalu bersikap rendah hati.
4. Mempererat persaudaraan dengan sesama.
5. Meyakini bahwa Islam adalah agama yang sempurna.
6. Meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah Swt.




Tujuan Pembelajaran
Setelah mengikuti proses pembelajaran ini peserta didik
mampu:
1. Meyakini makna zakat, infak, sedekah, dan hadiah dengan benar.
2. Membiasakan perilaku berbagi sebagai bukti menerapkan makna zakat, infak, sedekah, dan hadiah dengan benar.
3. Menjelaskan makna zakat, infak, sedekah, dan hadiah dengan benar.
4. Membedakan makna zakat, infak, sedekah, dan hadiah dengan benar.
5. Menciptakan ide-ide kegiatan yang serupa dengan makna zakat, infak, sedekah, dan hadiah dengan benar.
6. Mempraktikkan makna zakat, infak, sedekah, dan hadiah dengan benar.

Pendalaman Materi
A. Zakat
Zakat menurut bahasa artinya tumbuh, berkembang, suci, dan berkah. Zakat artinya harta milik seseorang atau badan usaha yang wajib dikeluarkan sesuai syariat Islam. Dengan demikian, hukum zakat adalah wajib. Zakat ada dua macam, yaitu zakat fitrah (jiwa) dan zakat mal (harta).
1. Zakat Fitrah
Fitrah artinya bersih atau suci. Zakat fitrah adalah pemberian bahan pokok menjelang hari raya Idul Fitri dengan syarat dan ketentuan sesuai syariat Islam. Seseorang wajib menunaikan zakat fitrah jika ia memiliki kelebihan harta untuk makan sehari semalam keluarganya. Ia juga masih hidup pada akhir bulan Ramadan hingga terbenam matahari.
Banyaknya zakat fitrah yang harus dikeluarkan adalah 2,5 kilogram beras. Zakat fitrah diserahkan saat matahari terbenam pada akhir Ramadan atau malam hari raya hingga sebelum salat idul fitri.
2. Zakat Mal
Zakat mal adalah harta yang wajib dikeluarkan oleh seseorang sesuai dengan syariat Islam. Harta yang wajib dizakati adalah hasil perdagangan, pertanian, perkebunan, peternakan, penangkapan ikan, barang temuan, emas, perak, dan penghasilan (zakat profesi).
Orang yang memiliki kewajiban zakat harus beragama Islam, balig, berakal, bebas dari hutang dan merdeka. Adapun harta yang wajib dizakati dikeluarkan zakatnya harus diperoleh dengan cara yang halal, berkembang, milik sendiri, mencapai haul (satu tahun), dan mencapai nisab. Allah Swt berfirman.
Artinya : “ Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, para amil zakat, orang-orang yang dilunakkan hatinya (mualaf), untuk (memerdekakan) para hamba sahaya, untuk (membebaskan) orang-orang yang berutang, untuk jalan Allah dan untuk orang-orang yang sedang dalam perjalanan (yang memerlukan pertolongan), sebagai kewajiban dari Allah. Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”. (Q.S. At-Taubah : 60)
Orang yang mengeluarkan zakat disebut muzakki, sedangkan penerima zakat disebut mustahik. Ada delapan golongan penerima zakat fitrah maupun zakat mal sesuai surah At-Taubah ayat 60, yaitu sebagai berikut.
a. Fakir, yaitu orang yang tidak memiliki pekerjaan dan tidak memiliki harta untuk mencukupi kebutuhan pokoknya.
b. Miskin, yaitu orang yang memiliki harta tetapi tidak mencukupi untuk kebutuhan pokok sehari-harinya.
c. Amil, yaitu orang yang bertugas mengelola dan mendistribusikan zakat.
d. Muallaf, yaitu orang yang belum kuat keimanannya karena baru masuk Islam.
e. Riqab, yaitu usaha memerdekan hamba sahaya dengan cara membelinya dengan uang zakat.
f. Garim, yaitu orang yang memiliki hutang yang banyak dan tidak mampu untuk membayarnya.
g. Sabilillah, yaitu orang yang berjuang untuk syiar di jalan Allah Swt.
h. Ibnu Sabil, yaitu orang yang kekurangan bekal atau biaya dalam perjalanannya dengan tujuan untuk kebaikan.
B. Infak
Infak secara bahasa artinya nafkah. Secara istilah, infak adalah pemberian sukarela yang dianjurkan. Infak diberikan kepada orang lain yang membutuhkan. Hukum infak adalah sunah. Allah Swt berfirman.
Artinya : “Kamu sekali-kali tidak akan memperoleh kebajikan (yang sempurna) sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai. Apa pun yang kamu infakkan, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui tentangnya”. (Q.S. Al-Imran : 92)
C. Sedekah
Sedekah adalah menyerahkan sebagian harta atau benda yang dimiliki seseorang yang tidak dibatasi waktu dan jumlahnya. Sedekah dilakukan semata-mata hanya untuk mengharap rido Allah Swt. Allah Swt memuliakan orang-orang yang bersedekah terutama yang dilakukan pada bulan Ramadan. Sedekah dapat berupa uang, makanan, minuman, pakaian, pikiran, tenaga, atau senyuman.
Hukum sedekah pada dasarnya adalah sunah. Akan tetapi, hukum sedekah menjadi wajib apabila ada seseorang yang sangat membutuhkan sedekah tersebut dan terancam jiwanya karena lapar. Sebaliknya, sedekah menjadi haram jika kamu mengetahui bahwa orang yang kita beri sedekah akan menggunakannya untuk bermaksiat kepada Allah Swt. Allah Swt berfirman.
Artinya : “Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat, melainkan kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari Akhir, malaikat-malaikat, kitab suci, dan nabi-nabi; memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang miskin, musafir, peminta-minta, dan (memerdekakan) hamba sahaya; melaksanakan salat; menunaikan zakat; menepati janji apabila berjanji; sabar dalam kemelaratan, penderitaan, dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa”. (Q.S. Al-Baqarah : 177)
D. Hadiah
Hadiah adalah pemberian kepada seseorang sebagai wujud rasa hormat atau memberikan penghargaan. Hadiah biasanya diberikan dalam bentuk ucapan atau barang. Kamu bisa memberikan kepada ayah, ibu, adik, kakak, guru, atau temanmu. Memberikan hadiah dengan tujuan untuk memperoleh jabatan tertentu dilarang dalam agama Islam.
E. Hikmah Berbagi
Berbagi dengan cara berzakat, infak, sedekah, atau hadiah tentu memberikan hikmah. Hikmah tersebut dirasakan oleh pemberi maupun penerimanya. Berikut hikmah berbagi.
1. Memperoleh kebaikan dari Allah Swt.
2. Melipatgandakan rezeki.
3. Menghindarkan diri dari sifat kikir.
4. Membersihkan harta yang dimiliki.
5. Meringankan beban orang lain.
6. Menolak musibah.



Tujuan Pembelajaran

Setelah mengikuti proses pembelajaran ini peserta didik mampu:
1. Meyakini makna hidup indah saling menghargai dan tugas utama sebagai khalifah dengan benar.
2. Membiasakan perilaku terpuji sebagai bukti wujud implementasi dari makna hidup indah saling menghargai dan tugas utama sebagai khalifah dengan benar.
3. Menjelaskan makna hidup indah saling menghargai dan tugas utama sebagai khalifah dengan benar.
4. Menyebutkan makna saling menghargai dan tugas utama manusia sebagai khalifah dengan benar.
5. Menampilkan contoh-contoh perilaku saling menghargai dan tugas utama sebagai khalifah dengan benar.
6. Menemukan perilaku-perilaku manusia sebagai khalifah dalam kehidupan
Pendalaman Materi
A. Indahnya Saling Menghargai
Seseorang akan dihargai jika ia mampu menghargai orang lain. Saling menghargai akan mewujudkan kerukunan. Manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. Menghargai artinya menghormati atau toleransi antarsesama. Seseorang yang menghargai orang lain berarti menyadari bahwa orang lain penting baginya. Ada banyak sekali cara menghargai perbedaan yang ada di antara sesama, antara lain sebagai berikut.
1. Menghargai Perbedaan Suku dan Budaya
Indonesia terdiri atas beragam suku dan budaya. Kamu tetap harus mau bergaul dengan temanmu yang berbeda suku dan budaya. Kita tidak boleh menghina suku dan budaya orang lain. Semua perbedaan yang ada merupakan kehendak Allah Swt. Allah Swt berfirman.
Artinya : “ Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti” . (Q.S. Al-Hujurat : 13)
2. Menghargai Keyakinan Orang lain
Agama Islam mengajarkan agar para pemeluk selalu bersatu, hidup damai, dan berkasih sayang. Terhadap pemeluk agama lain pun Islam memerintahkan umatnya untuk saling menghargai. Toleransi yang dianjurkan dalam Islam adalah toleransi yang berkaitan dengan urusan dunia. Kita dilarang menghina keyakinan orang lain. Allah Swt berfirman.
Artinya : “Janganlah kamu memaki (sesembahan) yang mereka sembah selain Allah karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa (dasar) pengetahuan. Demikianlah, Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah tempat kembali mereka, lalu Dia akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan”. (Q.S. Al-An’am : 108)
3. Menghargai Pendapat Orang lain
Kita harus menghindari sikap ingin menang sendiri. Kita juga tidak bolej menganggap bahwa kitalah yang paling benar. Apabila terjadi perbedaan pendapat, kita harus menyelesaikannya dengan sebaik-baiknya, yakni dengan jalan musyawarah. Allah Swt berfirman.
Artinya : “ (juga lebih baik dan lebih kekal bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhan dan melaksanakan salat, sedangkan urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah di antara mereka. Mereka menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka”. (Q.S. Asy-Syura : 38)
Kita tidak boleh menghina pendapat orang lain. Saat orang lain menyampaikan pendapat kita harus mendengarkannya dengan baik. Setiap anggota musyawarah harus menjunjung tinggi hasil musyawarah dan melaksanakannya dengan penuh tanggung jawab.
4. Menerima Perbedaan
Menerima perbedaan dapat kita wujudkan dengan banyak cara, misalnya dengan menunjukkan sikap toleransi dan mempertahankan budaya Indonesia. Sikap toleransi artinya saling menghargai. Adapun budaya Indonesia yang harus tetap kita pertahankan meski dengan keberagaman, yaitu santun, tolong-menolong, dan gotong royong.

B. Manusia sebagai Khalifah
Nabi Adam a.s dan keturunannya dipilih Allah Swt sebagai khalifah di muka bumi. Allah Swt berfirman.
1. Pengertian Khalifah
Artinya : “ (Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah) di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (Q.S. Al-Baqarah : 30)
2. Tugas-tugas Manusia sebagai Khalifah
Adapun tugas-tugas manusia sebagai khalifah di muka bumi, antara lain sebagai berikut.
a. Belajar dengan giat untuk menambah ilmu pengetahuan.
b. Menjaga akal pikiran dan hati untuk mengabdi kepada Allah Swt.
c. Menjaga alam dan lingkungan agar tetap lestari.
d. Menjaga persatuan dan kesatuan di dalam masyarakat.
e. Mewujudkan masyarakat yang adil.
f. Menerapkan sikap tolong-menolong.



Tujuan Pembelajaran

Setelah mengikuti proses pembelajaran ini peserta didik mampu:
1. Meyakini asmaulhusna al-Qawiyyu, al-Qayyūm, al-Muhyi, al-Mumīt, dan al-Bā’iś.
2. Menjelaskan makna asmaulhusna al-Qawiyyu, al-Qayyūm, al-Muhyi, al-Mumīt, dan al-Bā’iś.
3. Mengungkap nilai-nilai akhlak terpuji sebagai bukti keyakinan kepada asmaulhusna al-Qawiyyu, al-Qayyūm, al-Muhyi, al- Mumīt, dan al-Bā’iś.
4. Menyimpulkan perilaku terpuji yang sesuai dengan asmaulhusna al-Qawiyyu, al-Qayyūm, al-Muhyi, al-Mumīt, dan al-Bā’iś.
5. Membuat tulisan indah asmaulhusna al-Qawiyyu, al-Qayyūm, al-Muhyi, al-Mumīt, dan al-Bā’iś.

Pendalaman Materi
A. Ayo Mengenal Allah Swt melalui Asmaul Husna
Mengenal Allah Swt dapat dilakukan salah satunya adalah dengan memahami makna asmaul husna. Asmaul husna artinya nama-nama Allah Swt yang baik dan indah. Allah Swt memiliki 99 asmaul husna. Berikut akan dijelaskan lima dari 99 asmaul husna tersebut, yaitu Al-Qawwiyu, Al-Qayyum, Al-Muhyi, Al-Mumit, dan Al-Ba’is.
1. Al-Qawwiyu
Al-Qawwiyu artinya Allah Swt Maha Kuat. Allah Swt menciptakan, mengawasi, dan mengatur alam semesta beserta isinya sendiri dengan kekuatan-Nya. Kekuatan Allah Swt tidak terbatas. Manusia adalah makhluk kecil yang sangat lemah di hadapan Allah Swt. Manusia tidak boleh bersikap sombong kerena sesungguhnya kekuatan manusia berasal dari Allah Swt. Firman Allah Swt :
Artinya : “ (Keadaan mereka) serupa dengan keadaan pengikut Fir‘aun dan orang-orang yang sebelum mereka. Mereka mengingkari ayat-ayat Allah, maka Allah menyiksa mereka disebabkan dosa-dosanya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi sangat keras hukuman-Nya”. (Q.S. Al-Anfal : 52)
Kita harus meyakini sifat Allah Swt yang Maha Kuat. Misalnya dengan membantu lemah jika kita memiliki harta yang cukup, tidak memamerkan kekayaan kepada orang miskin, dan tidak memamerkan ilmu yang kita miliki kepada orang lain.

2. Al-Qayyum
Al-Qayyum artinya Allah Swt Maha Berdiri Sendiri. Allah Swt mengurus segala perkara atau urusan makhluk-Nya sendiri tanpa bantuan dari makhluk-Nya. Allah Swt menegakkan bumi, langit, dan segala makhluk yang ada di antara keduanya. Allah Swt yang mengadakannya. Allah Swt Maha Kaya dari semua makhluk secara mutlak. Allah Swt memberikan pendidikan kepada manusia supaya hidup tidak selalu bergantung kepada orang lain. Allah Swt berfirman :
Artinya :  “ Allah, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup lagi Maha Mengurus (makhluk-Nya) secara terus-menerus”. (Q.S. Al-Imran : 2)
Asmaul husna Al-Qayyum harus diteladani dalam kehidupan sehari-hari, yaitu dengan membiasakan agar dapat hidup mandiri. Sebagai seorang siswa, kamu harus bisa menggunakan kesempatan belajar kamu dengan sebaik-baiknya dan tidak bergantung kepada orang lain. Perilaku mandiri yang dapat kamu terapkan dalam kehidupan sehari-hari, misalnya merapikan tempat tidur, mengerjakan ulangan sendiri, dan lain sebagainya.

3. Al-Muhyi
Al-Muhyi artinya Allah Swt Maha Menghidupkan. Allah Swt memberikan kehidupan kepada seluruh makhluk-Nya. Setelah manusia meninggal dunia, Allah Swt akan menghidupkannya kembali di akhirat. Seseorang yang meyakini asmaul husna Al-Muhyi akan bersemangat dan terdorong untuk berlomba-lomba melakukan kebaikan, Allah Swt berfirman.
Artinya : “ Perhatikanlah jejak-jejak rahmat Allah, bagaimana Dia menghidupkan bumi setelah mati (kering). Sesungguhnya (Zat yang melakukan) itu pasti berkuasa menghidupkan orang yang telah mati. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (Q.S. Ar-Rum : 50)

4. Al-Mumit
Al-Mumit artinya Allah Swt Maha Mematikan. Kematian manusia terjadi atas kehendak Allah Swt. Seseorang yang meyakini sifat Allah Swt Al-Mumit, maka ia akan senantiasa beramal salih, yaitu dengan gemar membaca Al-Quran, rajin melaksnakan salat, menghormati orang tua dan guru, menyayangi orang lain dan sebagainya. Allah Swt berfirman :
Artinya : “Allah menggenggam nyawa (manusia) pada saat kematiannya dan yang belum mati ketika dia tidur. Dia menahan nyawa yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan nyawa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat bukti-bukti (kekuasaan) Allah bagi kaum yang berpikir”. (Q.S. Az-Zumar : 42)

5. Al-Ba’is
Al-Ba’is artinya Allah Swt Maha Membangkitkan. Allah Swt membangkitkan manusia dari alam kubur setelah datangnya hari kiamat. Allah Swt adalah satu-satunya zat yang mampu menidurkan kita di malam hari dan membangunkan kita kembali di pagi hari. Allah Swt berfirman :
Artinya : “Sungguh, Kami telah mengutus (para rasul) kepada umat-umat sebelum engkau, (tetapi mereka membangkang,) kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kemelaratan dan kesengsaraan, agar tunduk merendahkan diri (kepada Allah)”. (Q.S. Al-An’am : 42)
Seseorang yang meyakini asmaul husna Al-Ba’is akan meyakini adanya hari kebangkitan. Ia juga akan selalu berperilaku terpuji. Seseorang yang meyakini asmaul husna Al-Ba’is akan berusaha memberi semangat hidup kepada orang lain dengan mengajarkan ilmu yang bermanfaat. Ia juga akan berusaha menanamkan rasa percaya diri dan semangat juang kepada orang lain di sekitarnya.

B. Ayo Membiasakan Perilaku Terpuji Asmaul Husna
Setelah memahami makna asmaul husna, kita harus berusaha mengamalkan dan meneladaninya dalam kehidupan sehari-hari. Berikut bentuk-bentuk perilaku terpuji asmaul husna.
1. Senantiasa bersikap tawaduk (rendah hati) dan tidak sombong.
2. Menyelesaikan tugas secara mandiri, tidak tergantung kepada orang lain.
3. Tidak mengulangi kesalahan yang sama.
4. Selalu menyadari bahwa perbuatan kiya akan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak.
5. Selalu bersemangat dalam menuntut ilmu dan tidak mudah menyerah.




Tujuan Pembelajaran
Setelah mengikuti proses pembelajaran ini peserta didik
mampu:
1. Meyakini Surah al-Mā’ūn sebagai firman Allah dengan benar.
2. Terbiasa membaca Surah al-Mā’ūn dengan benar.
3. Melafalkan Surah al-Mā’ūn dengan benar.
4. Mengartikan Surah al-Mā’ūn dengan benar.
5. Menjelaskan makna isi pokok Surah al-Mā’ūn dengan benar.
6. Menghubungkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan perilaku sehari-hari dengan benar.
7. Mempraktikkan hadis tentang anak yatim dalam bentuk perilaku menyayangi anak yatim dengan benar.

Pendalaman Materi

A. Membaca Surah Al-Maun
Surah Al-Maun diturunkan setelah surah At-Takasur. Nama Al-Maun diambil dari ayat terakhir surah ini. Al-Maun artinya barang-barang yang berguna. Sekarang bacalah surah Al-Maun berikut dengan makhraj yang tepat!
Saat membaca surah Al-Maun, kamu harus memperhatikan hukum bacaan di dalamnya. Ada banyak hukum bacaan dalam ilmu Tajwid, diantaranya adalah hukum mim sukun. Hukum mim sukun dibagi menjadi tiga, yaitu sebagai berikut.
1. Ikhfa’ Syafawi, yaitu apabila terdapat mim sukun(مْ)  bertemu dengan huruf ba (ب) . Cara membacanya yaitu dengan suara samar antara mim  (م)dan ba(ب)  pada bibir, kemudian ditahan sekitar dua ketukan seraya mengeluarkan suara ikhfa’ dari pangkal hidung.
Contoh : تَرْمِيْهِمْ بِحِجَارَةٍ 
2. Idgam Mutamasilain (idgam mimi/idgam misli), yaitu apabila terdapat mim sukun (مْ)  bertemu dengan huruf mim (م) . Cara membacanya yautu memasukkan huruf mim ke dalam huruf mim di depannya disertai dengan suara gunnah sekitar dua ketukan.
Contoh : اَطْعَمَهُمْ مِّنْ جُوْعٍ 
3. Izhar Syafawi, yaitu apabila terdapat mim sukun(مْ)  bertemu dengan huruf hijaiyyah selain mim dan ba. Cara membacanya yaitu jelas di bibir dan mulut tertutup tanpa dipanjangkan.
Contoh :  وَيَمْنَعُوْنَ 

B. Menulis Surah Al-Maun
Surah Al-Maun disebut juga At-Takzib yang berarti pendustaan. Surah Al-Maun adalah surah ke-107 dalam Al-Quran. Surah ini terdiri atas tujuh ayat. Surah Al-Maun ditulis menggunakan huruf hijaiyyah bersambung. Penulisan kalimat surah Al-Maun dimulai dari kanan ke kiri. Saat menulis surah Al-Maun, kamu harus memperhatikan letak huruf, perubahan bentuk huruf, cara menyambung huruf, dan tanda bacanya.

C. Mengartikan Surah Al-Maun
Kamu harus memahami arti surah Al-Maun dengan benar supaya lebih mudah memahaminya, coba perhatikan arti per kata dan arti per ayat surah Al-Maun berikut!
1. Terjemah Kata Surah Al-Maun
Berikut arti kata surah Al-Maun
1.  Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?
2.  Itulah orang yang menghardik anak yatim,
3.  dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.
4.  Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat,
5.  (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya,
6.  orang-orang yang berbuat riya,
7.  dan enggan (menolong dengan) barang berguna.

2. Terjemah Ayat pada Surah Al-Maun
Berikut arti ayat pada surah Al-Maun

D. Memahami Pesan Pokok Surah Al-Maun
Sebagai seorang muslim, kita harus mempelajari pesan yang terkandung dalam surah Al-Maun. Setelah mengetahui pesan tersebut, kita harus berusaha untuk mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
1. Asbabun Nuzul Surah Al-Maun
Surah Al-Maun ayat 1-3 turun karena ada orang yang identitasnya diperselisihkan oleh para perawi, yaitu Abu Sufyan, Abu Jahal, dan Al-As Ibn Walid atau orang lain. Mereka diperselisihkan karena setiap minggu menyembelih seekor unta. Pada suatu hari ada anak yatim yang datang untuk meminta sedikit daging sembelihan, akan tetapi mereka menghardik dan mengusir anak yatim tersebut.
Surah Al-Maun ayat 4-7 turun pada masa Rasulullah saw ada sekelompok orang munafik yang rajin mengerjakan ibadah salat. Mereka mengerjakannya bukan karena Allah Swt, tetapi karena ingin dipuji orang lain. Saat ada orang yang melihatnya, mereka salat dengan sangat khusyuk. Sementara jika tidak ada yang melihatnya, mereka salat dengan seenaknya, bahkan meninggalkannya. Allah Swt tidak menyukai orang-orang munafik.
2. Pesan Surah Al-Maun
Surah Al-Maun menjelaskan tentang ciri-ciri orang yang mendustakan agama. Mereka adalah orang yang menghardika anak yatim dan tidak menganjurkan memberi makan kepada orang miskin. Dalam surah Al-Maun Allah Swt mengemukakan orang-orang yang celaka, yaitu orang yang lalai dari salatnya, orang yang berbuat riya, dan orang yang enggan memberikan bantuan kepada orang yang membutuhkan. Berikut beberapa pesan pokok surah Al-Maun.
a. Kita harus peduli kepada anak yatim.
b. Kita harus memiliki rasa empati kepada fakir miskin.
c. Kita harus mengerjakan salat dengan khusyu karena Allah Swt.

E. Menghafal Surah Al-Maun
Mengafal surah Al-Mau  tidaklah sulit asalkan kamu tekun berlatih. Kamu bisa menghafal surah Al-Maun dengan cara membacanya atau mendengarkannya secara berulang-ulang. Kamu dapat memulainya dari ayat pertama. Setelah ayat pertama hafal, kamu dapat melanjutkannya sampai ayat terakhir.

F. Sejuta Asa untuk Anak Yatim
Kita harus peduli kepada orang lain, yaitu dengan menumbuhkan sikap empati dan simpati. Peduli artinya mempedulikan diri atau memperhatikan orang lain. Berikut beberapa cara untuk membantu anak yatim.
1. Menyayangi mereka dengan tulus, tidak mengejek, menghina, atau mengambil hak anak yatim.
2. Memberikan bantuan berupa kebutuhan pokok kepada anak yatim.
3. Mengasuh anak yatim.
4. Membimbing anak yatim.